Konsumsi Obat Darah Tinggi Bisa Merusak Ginjal, Benarkah?

Pertanyaan ini menjadi kalimat yang paling sering terngiang-ngiang saat seseorang diharuskan mengonsumsi obat darah tinggi, tapi benarkah demikian? Yuk kita bahas !

Darah tinggi atau hipertensi merupakan masalah kesehatan dunia yang sudah menjadi salah satu penyakit terbanyak di Indonesia. Hipertensi merupakan faktor resiko kerusakan organ[1]organ penting seperti jantung,, ginjal, mata, dan otak.

Menurut Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2019, seseorang dikatakan mengalami tekanan darah tinggi adalah saat hasil pengukuran tekanan darah sistolik >140 mmHg dan tekanan darah diastolik >90 mmHg.

Apabila seseorang sudah memiliki resiko hipertensi seperti riwayat keluarga dengan darah tinggi, kebiasaan merokok, pola konsumsi garam berlebihan, kurangnya aktifitas fisik, obesitas, kolesterol tinggi, maka semua penanganan awal nya adalah dengan perubahan gaya hidup.

Apabila intervensi pola hidup dalam kurun waktu 2 minggu – 1 bulan belum juga ada perubahan, maka pengobatan adalah strategi terbaik untuk menghindari resiko komplikasi.

Apakah Obat Merusak Ginjal?

Tekanan darah yang dibiarkan terus menerus tinggi lah yang akan berakibat pada kerusakan ginjal. Begitupun sebaliknya, seseorang dengan penyakit ginjal juga berakibat pada tekanan darah yang selalu tinggi.

Ketika pembuluh darah dibiarkan dengan tekanan yang tinggi terus menerus, pembuluh darah akan kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku. Akibatnya organ seperti jantung, ginjal, otak harus terpaksa bekerja lebih keras, dan beresiko mengalami gagal jantung, gagal ginjal dan perdarahan otak.

Sebagai pengobatan awal dokter akan memberikan 1 macam obat penurun tekanan darah dengan masa observasi yang bervariasi pada masing-masing dokter. Pada beberapa kasus yang disertai pertimbangan resiko komplikasi penyakit lain dokter akan memberikan kombinasi 2 sampai 3 jenis obat.

Penggunaan obat tetap harus sejalan dengan intervensi pola hidup yang baik, seperti pembatasan konsumsi garam dan alkohol, menjaga berat badan yang ideal, meningkatkan aktifitas fisik secara bertahap, menghindari kebiasaan merokok, dan asupan sayuran serta buah[1]buahan.

Referensi :

Perhimpunan Dokter Indonesia. Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2019. Jakarta. 2019
Kemenkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/514/20155 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Faskes Tingkar Pertama. Jakarta.2015

WASPADA!! Penyakit Silent Killer Penyebab Kematian Mendadak

Silent killer adalah penyakit yang dapat menyebabkan kematian, tetapi tidak menimbulkan gejala...

Pentingnya Konsumsi Vitamin C

Kita pasti sadar betul manfaat konsumsi vitamin C adalah hal penting bagi...

Gejala DBD Yang Sering Diabaikan

Penting untuk mengetahui gejala DBD dan melakukan pencegahan untuk melindungi diri dan...

Mengenal Cacar Air dan Cacar Api

Penyakit cacar adalah penyakit yang menakutkan, baik itu cacar air maupun cacar...